Awal 2005. Selepas tsunami.

Di Depan Masjid Kangar
Di depan masjid Kangar bersama Accord itu.

Bukit berpohon lebat, padang terhampar hijau, ladang luas bertumbuh bermacam tananaman, pekarangan pun penuh bunga dan buah. Asri yang terasa memandang kanan-kiri jalan yang kami lalui. Sesekali mobil berlalu dari arah berlawanan. Jalan cenderung sepi. Honda Accord bergigi matic ini pun melaju dengan tenang. Aku duduk di belakang kemudi. Pengalaman pertama buatku menggunakan mobil berpersneleng otomatis. Di negeri orang lagi. Perlis Indera Kayangan, Malaysia.

Kami tengah melaju dari Kangar, ibukota Perlis, menuju Wang Kelian, sebuah border zone antara Malaysia dan Thailand Selatan. Sebuah kawasan bebas bea. Mayoritas muslim. Bagaimanapun penduduk Thailand Selatan (Pattani, Yala, Narathiwat, Setun, Songkhla) yang kebanyakan Melayu lebih dekat secara geografis, budaya dan religius dengan Malaysia (khususnya semenanjung utara, seperti Perlis, Kedah, Pulau Pinang, Perak, Selangor) ketimbang Thailand.

Beberapa puan, termasuk istriku, di jok belakang berceloteh riuh selama perjalanan. Menakjubi pemandangan yang dijumpai di kiri kanan jalan.

Namun, aku lebih tertarik satu hal dalam perjalanan ini. Jalan. Ya, aku memperhatikan jalan-jalan di negeri Perlis ini. Sepanjang jalan mulai Kangar, ibukota Perlis, hingga perbukitan Gua Kelam sebelum Wang Kelian selalu ada bahu jalan kanan dan kiri selebar sekitar 1,5 meter dengan garis pembatas yang putih jelas. Disediakan untuk tempat berlalu sepeda motor. Selain mereka tertib mematuhi traffic light, yang menakjubkan adalah tak ada satupun kendaraan roda dua yang tidak menyalakan lampu bahkan di siang hari dan tidak ada satupun sepeda motor berlalu di jalan kecuali selalu berjalan di tempat yang telah disediakan buat mereka itu. Tidak kulihat ada sepeda motor yang berlalu di jalur mobil! Bahkan ketika kami memasuki daerah pedesaan yang sepi menjelang Gua Kelam, pemandangan itu tak jauh berbeda.

Bagiku ini sangat mengherankan.

“Cik Hasyim,” sapaku pada pegawai Tuan Haji Ismail yang menyertai kami. Ia duduk di sebelahku, setelah tadi memberiku kesempatan mencobai mobil mahal ini. “Saye perhatikan, orang-orang yang memakai kereta angin di sini selalu menyalakan lampu dan berjalan di sebelah kiri. Tak pernah melanggar garis batas itu, Cik.”

Aku menunjuk seorang ibu dengan sepeda motornya (mereka menyebutnya: kereta angin) berlalu berlawanan di bahu jalan sebelah kanan.

Cik Hasyim hanya tersenyum – sebenarnya dia memang murah senyum. “Memang peraturannya seperti itu, Pak Bahtiar. Kereta angin harus menyalakan lampu di siang hari dan berlalu di jalan itu.”

“Tetapi, bukankah di daerah dusun yang sepi seperti ini tidak ada polis, Cik?” kejarku. Memang tak banyak polisi (polis – Malaysia) yang berjaga sepanjang jalan yang kulalui.

“Ya, memang tak ada polis. Tapi kalau kami berlalu di tengah jalan kan itu artinya melanggar peraturan?”

Subhanallah. Sampai sebegitunya orang Perlis patuh pada peraturan lalu-lintas. Meski tak ada petugas. Meski mereka jumpalitan di tengah jalan sekalipun misalnya, mungkin tak akan ada polisi yang melihat. Mobil pun jarang melintas.

Tak heran makanya ketika hari pertama datang ke kota ini seorang teman dari Perlis mengatakan bahkan bila seorang wanita berjalan sendirian dengan mobilnya di malam hari di negeri ini Insya Allah aman sampai di tujuan. Tak akan ada yang mengganggu.

***

Surabaya akhir tahun lalu.

Polwiltabes Surabaya mewajibkan pengendara sepeda motor untuk menyalakan lampu kota di siang hari. Untuk mengurangi angka kecelakaan lalu-lintas, katanya.

Di beberapa ruas jalan besar juga sudah dibuat jalur khusus untuk sepeda motor. Mereka menyebutnya: proyek kanalisasi. Jalur khusus itu berupa batas dari tiang-tiang setinggi pinggang yang dihubungkan dengan tali dan memanjang selebar dua-tiga sepeda motor di bahu jalan. Setiap sepeda motor diwajibkan untuk berjalan di jalur khusus ini.

Tidak itu saja. Untuk membudayakan tertib lalu-lintas ini diadakanlah iklan ajakan besar-besaran di surat kabar dan berbagai radio. Bahkan ada undiannya segala. Setiap pengendara sepeda motor bisa mengambil dan mengisi kupon di beberapa check-point di sepanjang jalur khusus itu. Bahkan ada wartawan yang akan mengambil gambar seseorang yang tertib berlalu-lintas dan yang bersangkutan akan mendapatkan hadiah bila ia beruntung muncul di halaman belakang surat kabar edisi esok hari.

Maka begitulah. Setiap sepeda motor yang berlalu di kota Surabaya menyalakan lampu, berbondong-bondong berjalan di jalur yang telah disediakan, mengambil dan mengisi kupon di check-point, dan menunggu siapa tahu beruntung dapat hadiah pada akhir periode undian. Bapak-ibu Polisi dengan sukarela berdiri di jalan-jalan protokol dengan papan menggantung di dada bertuliskan “Nyalakan Lampu” dan menunjukkannya pada setiap pengendara yang lewat.

Tibalah saat undian. Seorang pengendara sepeda motor yang hanya memasukkan satu dua lembar kupon beruntung mendapatkan hadiah utama. Kalau tidak salah uang tunai 10 juta rupiah dari sponsor. Dan inilah yang kemudian terjadi. Check-point pun bubarlah sudah. Tak ada lagi undian karena tertib berlalu-lintas. Tiang-tiang kanal banyak yang putus tali penghubungnya, untuk kemudian merana. Bahkan satu per satu hilang dari tempatnya. Sepeda motor pun satu demi satu kembali ke tengah jalan. Bersalipan, berkejaran, dan berbalapan dengan mobil atau sesamanya.

Maka, kehidupan Surabaya di jalanan pun kembali seperti sedia kala.

***

Orang Perlis juga kelewatan sopan. Jika ada kendaraan yang mau berbelok kanan, maka Sang Pengemudi akan menunggu kendaraan lain yang berlalu dari arah depan sampai dengan hampir-hampir sepi. Barulah ia akan membelokkan kendaraannya dengan tenang.

Begitulah yang aku perhatikan adab orang Perlis berkendara di jalan.

Pagi itu kami rombongan dari Indonesia berangkat ke tempat Sijil Tuan Haji Ismail di daerah Jejawi. Pakai kendaraan Serena berbadan besar. Aku lagi-lagi pegang kemudi. Biasa, pengin mencoba mobil baru.

Selepas lampu merah Mate Ayer mobil kubelokkan begitu saja ke kanan masuk gang tempat Sijil. Ada beberapa mobil dan sepeda motor yang akan melaju dari depanku mengerem mendadak. Mungkin mereka tak mengira ada mobil belok ke kanan tanpa menunggu mereka lewat lebih dulu.

“Heh! Ente main selonong saja!” seru temanku dari Tangerang. “Ini Perlis Tuan! Dudu Suroboyo, Rek!”

Yah, bagaimana lagi. Sudah biasa seperti itu di Surabaya! Bahkan aku termasuk paling sopan di sana!

Mereka ramai-ramai tertawa-tawa senang. Aku sih, sejujurnya, demikian juga. Dasar!

***

Ketertiban, kedamaian, dan kemakmuran sebuah negeri, tentu tidak dibangun hanya dalam hitungan hari. Tidak juga bisa hanya dengan iming hadiah. Apalagi peraturan seumur jagung. Ia dibangun dari dasar. Mungkin dari hal-hal yang sangat kecil dan remeh-temeh. Jika mematuhi peraturan lalu-lintas saja tak bisa, bagaimana masyarakat bisa mematuhi hal-hal yang lebih besar?

Perlis punya buktinya. Aman dan damai. Nyaman. Tercermin pada hal-hal kecil semacam sikap sopan-santun mereka di jalan raya. Lebih dari itu, barangkali memang yang lebih dominan adalah aqidah (Islam) yang dijunjung tinggi dan dilaksanakan. Apa yang kemudian tampak di keseharian mereka merupakan cermin dari kuatnya aqidah itu.

Sungguh tepat benar jika Rasulullah mendasari Islam pertama kali di era Makkah adalah dengan aqidah yang kuat. Hingga Bilal hanya menyebut “Ahad! Ahad! Ahad!” ketika batu membara menghimpit tubuhnya di atas panas sahara. Sungguh benar jika Rasul menganjurkan mengumandangkan adzan dan iqamat di telinga kanan dan kiri bayi kita yang baru lahir. Bukankah indra pertama yang berfungsi begitu bayi lahir adalah pendengaran, baru penglihatan, dan hati? Bukankah adzan dan iqamat adalah kalimat-kalimat tauhid, dasar dari aqidah ini?

Surabaya, juga kota-kota lain, mungkin banyak muslimnya. Tetapi, dari perilaku mereka di keseharian, termasuk pada hal-hal yang sepele seperti berlalu-lintas, barangkali mencerminkan kualitas aqidah mereka. Jadi, jika lalu-lintas menjadi kacau-balau, untuk menertibkan masyarakat penggunanya tidak tepat jika hanya dengan iming hadiah. Yang lebih tepat barangkali: memperbaiki aqidah mereka.

Tentu saja, ini proyek dakwah jangka panjang. Mari mulai dari diri masing-masing.

***

Gotong Royong nelayan

Saya masih ingat. Tahun 1996. Di Ponorogo, kota kelahiran saya.

Waktu itu mula-mula ada seorang dan hanya dia satu-satunya penjual penganan Pisang Molen. Namanya: Pisang Molen Jakarta. Tempatnya di depan SMP 1 Ponorogo, tempat saya pernah bersekolah. Pisang Molen bagi warga kota reog ini merupakan penganan baru yang mengundang penasaran untuk dicoba. Kala itu, tentu saja. Padahal isinya sangat sederhana. Potongan pisang dibungkus lapisan tepung yang kalau digoreng menghasilkan sejenis pisang goreng yang berbungkus tepung, renyah dan gurih.

Tak heran, setiap sore, bahkan ketika si penjual baru saja datang dan mempersiapkan gorengan pertamanya, pelanggan sudah antri mengerumun untuk membeli. Larisnya minta ampun!

Tak lebih dari sebulan kemudian, bermunculanlah penjual Pisang Molen di sekitar Pisang Molen Jakarta. Entah dari mana mereka mendapatkan resep membuat penganan itu, tetapi setidaknya dari tampilan fisik, mereka membuat dan menjual penganan yang sama dengan nama yang sama. Pisang Molen. Walhasil, berpuluh penjual Pisang Molen berderet berjajar di sepanjang jalan Soekarno-Hatta itu. Tentu saja rasa berbeda-beda, kualitas berbeda-beda, besar kecil penganan berbeda-beda, harga berbeda-beda. Sangat bervariasi. Pelanggan tentu saja terbagi. Pisang Molen Jakarta pun pamornya meredup, setidaknya sama saja dengan penjual Pisang Molen lainnya yang belakangan bermunculan.

Kini Pisang Molen bukan lagi pemandangan luar biasa di sepanjang jalan itu.

***

Beberapa tahun belakangan ini, bermunculan toko-toko swalayan berskala kecil, tetapi ditopang oleh modal dari pengusaha kakap. Sebut saja: IndoMaret, AlfaMaret. Beberapa pemain lain, yang lebih kecil juga bermunculan.

Ada satu hal yang menarik perhatian saya. Mereka seringkali mendirikan swalayan itu di pusat keramaian orang, dekat kampus, dekat perumahan atau perkampungan penduduk, atau dekat pasar. Tentu saja untuk mendekati calon pelanggan mereka, yang itu sayangnya adalah pelanggan lama toko-toko kecil (mracangan) yang dikelola secara tradisional yang lebih dulu ada di daerah itu. Padahal, apa yang mereka jual sama dengan yang dijual oleh mracangan. Bahkan lebih lengkap disamping lebih nyaman, lebih terjamin, ada diskon atau hadiah ini-itu. Mana ada toko mracangan berhadiah?

Tentu hasilnya bisa diduga. Swalayan-swalayan yang datang belakangan itu, yang tentu saja dikelola dengan lebih modern dan pelayanan yang lebih baik, banyak menggeser pemain-pemain tradisional yang telah ada sebelumnya. Tak sedikit dari mereka yang usahanya kemudian meredup. Kembang-kempis. Dan … gulung tikar.

***

Apakah Islam membolehkan praktek perdagangan semacam itu? Saya sedang mencari tahu jawabnya. Tetapi, hati kecil ini mengatakan, jika sebuah usaha mematikan usaha saudaranya yang – apalagi — juga tetangganya, usaha itu tidak akan membawa berkah.

***

Tanggal 5 Mei 2006.

Media massa masih meributkan demo Buruh 3 Mei di DPR RI yang berakhir rusuh. Saya sendiri sedang berkunjung ke Sinaboi, sebuah tempat yang bisa dijangkau bermobil dari Dumai ke Bagan Siapi-api selama 3 jam. Lalu masih harus dilanjut dengan bersepeda motor (ojek) melewati jalan batu dan tanah di sepanjang tepi pantai sejauh 1 jam perjalanan. Beberapa bagian diantaranya terendam air dan rusak. Rumah penduduk jarang-jarang. Menjelang Sinaboi, kami harus melewati jembatan kayu sempit yang bolong disana-sini, yang jika berpapasan dengan sepeda lain dan bersenggolan, dapat dipastikan keduanya akan jatuh kecebur sungai berair payau. Hampir tak menyangka sebelumnya jika ternyata di ujung perjalanan ini terdapat sebuah daerah yang berpenghuni.

Jalan becek menuju Sinaboi
Jalan becek menuju Sinaboi.

Jembatan Kayu
Jembatan Kayu pintu gerbang Sinaboi

Sinaboi adalah sebuah kampung nelayan. Di tepian Selat Malaka. Dulu ramai, karena pinggir pantainya masih berkedalaman 20 meter lebih sehingga kapal-kapal besar bisa singgah di sini. Tapi sekarang, kedalaman pantainya hanya 0 meter jika surut dan paling-paling 1-2 meter jika pasang. Banyak kapal akhirnya bertambat di pantai lain. Dan banyak orang Sinaboi berpindah ke tempat lain.

Kampung Sinaboi
Kampung nelayan Sinaboi.

Rumah mereka disusun dari kayu di atas rawa-rawa bibir pantai. Sulit air, apalagi jika hujan tak datang. Jalan-jalan dibuat dari beton atau kayu selebar dua sepeda motor. Kebanyakan penduduknya China perantauan. Namun banyak diantaranya yang menikah dengan penduduk setempat yang kebanyakan Melayu. Dan menjadi muslim. Seperti Kak Pao, demikian Pak Susakri, Komandan UGK Sinaboi yang mengantar kami menyebut nama wanita itu.

Siang itu, selepas meninjau instalasi Radar pemantau Selat Malaka di tempat ini, kami menyantap makan siang di kedai makanan Kak Pao. Tempatnya sederhana. Bersebelahan dengan rumah-rumah kayu lainnya. Hampir semuanya China. Di dindingnya terpasang Ayat-ayat Kursi berbingkai rapi dan foto keluarga besar mereka, kontras dengan rumah-rumah lain yang rata-rata di ruang tamunya terpasang seperangkat sesembahan pada leluhur berwarna merah menyala, lengkap dengan dupa atau mio berasap.

Kedai Kak Pao

Berbagai jenis makanan disajikan. Ikan Sembilang pedas. Ikan asin goreng. Kare kepala ikan. Ayam goreng. Sambal terong. Kering tempe kacang goreng pedas. Dan sebakul nasi. Satu hal yang menarik perhatian saya: minuman. Kak Pao tidak sedia minuman, tetapi mengambil minuman sesuai pesanan ke kedai kopi di sebelah kanan kedai.

“Ibu memang tidak menyediakan minuman?” tanya saya pada Kak Pao sambil mencomot sepotong ikan Sembilang.

“Tidak,” jawabnya ramah. “Kami hanya menyediakan makanan saja. Minumannya kami ambil dari kedai sebelah.”

Tak lama kemudian, minuman pesanan kami datang dari kedai kopi sebelah. Seorang ibu berwajah China mengantarkannya dalam nampan. Empat gelas es teh segar.

“Apakah ada semacam peraturan di sini yang tidak memperbolehkan Ibu menjual selain makanan?” tanya saya memancing.

“Tak ada,” jawab Kak Pao.

“Tapi memang tak boleh ya Ibu menjual minuman sendiri?” tanya saya lagi.

“Boleh saja,” katanya. “Kami boleh berjualan minuman juga.”

“Lantas kenapa Ibu tidak menjual minuman di sini dan hanya mengambil dari kedai sebelah?” kejar saya.

Kak Pao tersenyum. “Yah, hanya segan-menyeganlah. Dari dulu sudah begini,” katanya. “Kalau kami perlu minuman, kami mengambil dari sebelah. Jika tamu di sebelah memerlukan makanan, mereka memesan di sini untuk dimakan di sana.”

Saya mengangguk-angguk.

Segan-menyegan. Sebuah filosofi yang Melayu banget. Berpijak pada filosofi sederhana itu, mereka bisa berjualan berdampingan seharmonis ini. Tidak bersaingan. Tetapi, sinergi. Dan itu dipraktekkan Kak Pao dan tetangganya di kampung nelayan di tepian Selat Malaka yang nun jauh di ujung dunia ini. Di sini bahkan tak ada hiburan kecuali TV. Angka kejahatan kecil, bahkan nyaris tak ada. Tetapi, etika berdagang yang luhur itu justru masih bisa dijumpa.

Setelah kami membayar makan dan minum, Kak Pao menyuruh anak gadisnya menyerahkan uang minuman pada kedai kopi sebelah.

***

Segan-menyegan. Begitu sederhana. Andai itu diterapkan para penjual Pisang Molen di kota saya, barangkali Pisang Molen Jakarta akan tetap ramai dikunjungi orang hingga hari ini.

***

Sinaboi, 9 Mei 2006

Peta Cafe Omah Sendok


Jalan Empu Sendok 45 Jakarta Selatan. Suatu petang di penghujung Pebruari 2006.

Berderet mobil. Satpam yang ramah dan rapi. Café Omah Sendok yang tampak tenang dari luar, tapi jelas pikuk di dalam. Kubuka pintu dan sambutan ramah telah menanti. Di Selasar Omah, pekarangan belakang, katanya santun sambil menunjukiku dan membuka pintu samping. Sempat kulirik berderet buku Galery Lilin di depan, cindera mata mungkin, coklat dan kawan-kawan. Beberapa orang makan. Atau sekedar minum. Ini Café apaan, tanyaku dalam-dalam.

Begitu masuk ke Selasar Omah, aku langsung jatuh hati. Aku pengin memiliki selasar seperti ini, kataku pada kawan seperjalananku. Kebun yang menghijau diterangi temaram lampu di sela-sela perdu. Nyala obor berasap di beberapa tempat. Juga lilin-lilin yang dilarung pada kolam bening-biru di tengah-tengah rumah ijuk-kayu-bambu yang mengapitnya. Lantai ulin. Krapyak anyaman buluh bambu. Ah, aku membayangkan betapa indahnya andai saja kursinya berupa lincak kayu mahoni. Tapi yang ada hanyalah kursi-besi-merah-resepsi. Tak apalah. Setidaknya hal itu masih mengingatkanku bahwa perhelatan ini bukan terjadi di sebuah persinggahan lereng bukit, melainkan kota besar macam Jakarta.

Selasar Omah
Pict. Seting Selasar Omah (diambil dari: www.jenzcorner.com)

Endah Sulwesi, seorang yang kukenal di ranah maya baru dalam hitungan hari, telah menulis namanya di urutan ketiga di daftar hadir. Ada cellular-phone-nya di sana. Namun, sekali lagi kuingatkan diriku, bahwa kali ini aku hanya ingin menjadi penikmat saja. Datang tidak menggenapi, pergi pun tidak akan mengurangi. Mungkin lain kali, suatu saat entah.

Jadi, inilah yang kulakukan. Menambah profit Galeri Lilin dengan membeli beberapa buku. Mengambil nasi goreng ulam, irisan telur goreng, rebusan kacang-ijo, dan membubuhinya dengan ‘serpihan’ mentimun. (Pelit amat Mbak Eli, si tuan rumah, pikirku melihat irisan mentimun itu. Aku menyebutnya “mentimun dua dimensi”. Mana nggak ada kerupuk lagi!) Mengambil tempat di sayap kanan, di bawah lampu makan berbentuk kerucut, aku melahap santap malam itu diam-diam. Ketika Uda Akmal, seseorang yang juga baru kukenal di dunia maya disamping baris-baris SMS, lewat di depan mata (aku mencocokkan wajahnya dengan foto di belakang Imperia yang kubeli) dan mata kami bertumbuk, ia tersenyum, aku pun hanya refleks tersenyum dan ngempet menyapa. (Salah sendiri di bawah emailmu tercantum kalimat itu, Kang: charm is universal. when you don’t speak the language, a warm smile says it all.)

Ketika Mas Kurnia Effendi alias Kef duduk di kursi baris depanku (lagi-lagi aku hanya pernah melihatnya di Bercinta di Bawah Bulan. Tapi aku tak mengira ia ‘segemuk’ ini!), aku pun hanya diam; sampai ia bergeser sendiri ke belakang. Aku maklumi saja, karena itulah konsekuensi menenteng kamera dalam sebuah acara.

Agak beruntung, sebelum Idrus Shahab menyihir dengan petikan gitarnya ber-flamingco-ria, Dewi Lestari, si pusat perhatian malam itu, mengambil duduk tepat di kursi sampingku yang kosong. Ini namanya ‘ulo marani gepuk’. Gak usah susah-payah memburu, dia malah dengan sukarela mendekat.

“Langsung dari Bandung?” tanyaku, tentu saja basa-basi. Maksud sebenarnya terjadi kemudian: aku menyodorinya Filosofi Kopi untuk dibubuhi otografnya. Kali ini aku terpaksa menyebut nama. “To: Bahtiar. Enjoy!” tulisnya di sana.

Mas Idrus pun selesai dengan genjrengan-nya. Dee, Pak Mudji (ia ingin tak dipanggil ‘Romo’), Akmal, dan Idrus naik panggung terbuka. Wajah-wajah mereka seperti siluet, karena sorot lampu panggung menyiram dari arah belakang kepala mereka. Bukan dari depan. Mungkin karena di depan mereka terbentang kolam.

Jam delapan malam. Bulan seperti tak kelihatan, meski langit tak berawan. Dan, pencarian Tuhan pun segera dimulai.

***

“Apakah berdosa jika saya meninggalkan khotbah misa sekadar untuk mengejar matahari jingga senja hari yang keindahannya begitu sempurna? Saya bahkan sangat menikmati waktu yang hanya dua menit sebelum matahari tenggelam itu. Semesta membentang dan diri ini serasa begitu kecil. Justru dua menit itu sungguh telah menggantikan seluruh pencarian saya sejak kecil.”

“Saya penganut budhism. Tetapi, tidak seperti Pak Mudji katakan tentang budhism, saya sendiri justru sedang melakukan ‘pemberontakan’ terhadap budhism. Karena, budhism di Indonesia ini lucu. Dalam pemahaman saya, budhism tidak memiliki Tuhan. Tetapi, di Indonesia, budhism dipaksa untuk ‘menciptakan’ Tuhan pada masa Orba. Jika tidak, ia akan dicap sebagai komunis.”

“Bagi saya, menjadi Tantrayana atau Theravada tidaklah penting. Karena, spiritualitas yang saya alami jauh mengatasi sekadar penggolongan seperti itu.”

“Tuhan terlanjur menjadi pengutuk di Indonesia ini. Agama terlalu banyak mengancam dengan neraka. Itulah yang terjadi jika agama sekedar institusional. Ia cenderung memasung dan memaksa.”

Ungkapan-ungkapan semacam itu, termasuk “anaa al-haq”, meluncur begitu saja di forum ini, tanpa beban atau pretensi. Seperti sesuatu yang sudah common; yang jamak; bagian dari daily dialogs. Sharing sesuatu yang berat dan serius dengan sangat terbuka, santai dan … asyik. Tak ada caci-maki, tak ada saling hujat. Semua mendengar. Semua menyimak. Termasuk Pak Fuad Hasan yang sudah sepuh tapi masih tampak energik. Bahkan Kang Akmal, sang moderator, tidak pernah meng-cut pembicaraan seseorang kecuali membiarkannya tuntas mengalir, sehingga ada yang bahkan baca puisi segala!

Aku menikmati pertunjukan ini. Meski akhirnya keluar cukup jauh dari tema, tetapi setidaknya masih dalam ranah spiritualitas, meski sudah bukan ranah prosa lagi. Pencarian akan kekuatan spiritual — the great of me, kata Dee, kalau tak salah — nampaknya jauh lebih penting ketimbang membincang teks Supernova. Dan bagai seorang yang haus yang terus mencari mata air, terbukti masing-masing diri ternyata memiliki pengalaman dalam pencarian panjang ini. Yang unique, tak sama, meski mengambil jalan yang sama. Apalagi jalan yang tak sama. Dee mengaku mengambil jalan dari ilmu pengetahuan untuk mencapai Tuhan. Ada yang melalui diskusi (atau perdebatan?) intens. Ada yang mengambil tasawuf, yang dikatakannya sebagai begitu nikmat dan indah dibanding fatwa ulama yang cenderung kering. Ada yang melalui tarian darwis yang mabuk dan memabukkan hanya dalam hitungan menit. Ada yang melanglang buana, menemui peristiwa segala.

Tuhan ada di mana-mana, kata Mbak Novi, mengutip neneknya. Karena itu, ibu orang tuanya itu tak ber-KTP hanya karena harus mencantumkan sebuah agama. Sampai ketika saat meninggal pun, neneknya berpesan jangan sampai melabeli jenazahnya dengan agama tertentu. Dan masyarakat menstigma sikap spiritualistis seperti ini dengan cap “kafir” yang bagi Novi kecil (9 tahun) begitu menyeramkan dan menggelisahkan. Mengapakah agama cenderung memaksa, men-judge begitu rupa yang kadang malah memberi kesan betapa Tuhan begitu “kejamnya”?

Dan baru pada Supernova ia menemukan sepercik jawaban pertanyaan masa kecilnya itu. Apalagi ketika membaca Petir, ia merasa pada episode inilah Tuhan menjelma begitu lucu dan santai, jauh dari yang pernah ia bayangkan di masa kecil.

Tentu saja tidak akan cukup ruang ini jika semua sharing pengalaman diceritakan. Belum termasuk pengalamanku sendiri. Tetapi, sekali lagi, aku hanya ingin menjadi penikmat saja kali ini. Dan memang begitu nikmat berkumpul di sebuah forum dengan “energi” yang sama, sampai tak terasa waktu sudah beranjak larut, meski pencarian akan Tuhan malam itu jauh dari usai. Dan mungkin tak akan pernah selesai, karena aku yakin Tuhan sangat senang jika hamba-Nya mau mencari-Nya dari beraneka jalan. Bukahkah jika hamba-Nya mendatangi-Nya dengan berjalan, Ia akan menyambutnya dengan berlari?

***

Pada forum inilah aku jadi tahu beda ketiga diva itu. Djenar, Ayu Utami, dan Dee. Jika Djenar ibarat kopi tubruk yang hangat, meledak-ledak, sangat berasa, dan membuat semua orang “seger-kebakaran”, maka Ayu laksana kopi pabrikan, well-manufactured, yang racikannya serba dihitung, ditakar sedemikian rupa sehingga menimbulkan aroma dan rasa yang pas dan nikmat bagi yang meminumnya. Sedang kopi Dee, justru membuat yang minum menghentikan minum kopinya dan beralih pada minuman yang lain.

Ha ha ha. Sebuah analogi yang tepat sekaligus promosi yang hebat atas buku barunya: Kopi Filosofi. Bagaimanapun membaca Dee lewat Supernova ataupun Kopi Filosofinya terbukti membuat kita kadang harus berhenti, mencerna, berkerut, untuk kemudian meneruskannya atau membuangnya karena nggak paham, kalau tidak membosankan. Kalau yang terakhir itu yang terjadi, mungkin jalan mencari Tuhan Anda tidak sama dengan Dee. Jadi, tak perlu dipermasalahkan, bukan? []

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.