You are currently browsing the monthly archive for September 2007.

Siang terik. Waktunya zuhur. Kota Medan masih 100 km lagi. Stabat, ibukota Langkat, masih 20 km pula. Karena itulah, di Tanjung Pura ini kami berhenti. Dan sebuah masjid yang masih tampak megah berwibawa sekarang berdiri di hadapan kami. Inilah Masjid Azizi.

Masjid Azizi

Berdiri di atas tanah seluas 18.000 meter persegi, masjid tua ini dibangun pada masa Sultan Abdul Aziz Djalil Rachmat Syah (1897-1927), sultan Langkat ke-7. Pada masa inilah Kesultanan Langkat kaya raya dengan kontrak minyak dan perkebunan tembakau dengan pemerintah Hindia Belanda. Tak heran jika Istana Darul Aman Langkat juga dibangun pada masa ini.

Didirikan hanya dalam 18 bulan dan menelan biaya 200.000 ringgit, masjid ini memadukan corak arsitektur Tiongkok, Persia, Timur Tengah, dan tentu saja Melayu sendiri. Menara yang menjulang di halamannya serta ukiran pada pintu-pintunya bernuansa arsitektur Tiongkok.

Arsitektur Beragam

Bangunan utamanya bercorak Timur Tengah dan India dengan lebih dari sembilan kubah. Di dalamnya terdapat bangunan segi sembilan dengan tiang menjulang ke atas. Tempat khatib berkhutbah berbentuk mihrab berundak yang cukup tinggi seperti pelaminan raja.

Masjid ini mirip bangunan masjid raya Kesultanan Deli di Medan, karena bagaimanapun Langkat dan Deli masih ada hubungan kekerabatan. Demikian juga, bangunan Masjid Zahir di Kedah mirip dengan masjid Azizi ini. Itu barangkali karena Sultan Langkat pernah memiliki hubungan perkawinan dengan Sultan Kedah.

Arsitektur Dalam

Setiap tahunnya diadakan Festival Azizi di masjid ini. Kegiatannya beragam, mulai dari lomba barzanzi, azan, marhaban, dan baca puisi. Ini untuk memperingati tahun wafatnya Tuan Guru Besilam Babussalam Syeikh Abdul Wahab Rokan, yang dikenal sebagai ulama penyebar Tariqat Naqsabandiah. Pengikutnya menyebar hingga ke Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Jambi, dan negara-negara Asia Tenggara.

Masjid Azizi Kini

Kini, ia tampak keriput, pucat, dan seperti kurang sentuhan tangan. Usianya memang sudah cukup tua, 105 tahun sejak didirikan pada 12 Rabiul Awal 1320 H atau 13 Juni 1902. Ia adalah saksi bisu peristiwa demi peristiwa yang terjadi di Langkat dari masa silam hingga kini; masa dimana banyak orang hanya melihatnya sebagai monumen masa lalu yang nyaris terlupakan.

Karena itu, jika Anda sedang melintas di jalan raya lintas Sumatera dari arah Medan ke Banda Aceh, sempatkanlah mampir di masjid ini. Terletak di Tanjung Pura, ibukota Langkat di masa lalu, padanya kita bisa bertanya tentang suatu zaman kemakmuran yang pernah dialaminya pada suatu masa berbilang tahun yang lalu. Mungkin darinya, kita bisa belajar sebuah hikmah.

***

Keterangan:
Selain dari dokumentasi pribadi, gambar dan bahan tulisan ini diambil dari:

http://wawanwaiting.blogspot.com/2007/02/masjid-azizi-peninggalan-sejarah-dari.html
http://sriandalas.multiply.com/journal
http://ms.wikipedia.org/wiki/Masjid_Zahir

Sehari selepas HUT Kemerdekaan RI ke-62. 18 Agustus 2007. Orang-orang masih berpanjat pinang atau berbalap karung. Tetapi bagi kami, tak ada yang lebih penting ketimbang mengayuh sepeda kumbang menuju luar kota.

Nadzar Sepeda

Hari ini, kami tunaikan nadzar kami 17 tahun yang lalu. Bahwa jika kami lulus UMPTN dan diterima di Perguruan Tinggi pilihan, maka kami akan mengadakan perjalanan naik sepeda angin keluar kota Ponorogo. Maka diterimalah saya di Jurusan Teknik Komputer ITS Surabaya. Sedangkan Mohan, sahabat senasib senadzar itu, diterima di Fakultas Psikologi UGM Jogjakarta — yang kemudian tak benar-benar dimasukinya itu.

Sebuah nadzar yang terkesan main-main barangkali. Karenanya tak heran jika isteri saya masih setengah percaya setengah tidak ketika kami putuskan untuk pulang di HUT RI ke-62 ini untuk menyelesaikan nadzar yang tertunda 17 tahun itu. Bagaimanapun, sesederhana apapun, nadzar tetaplah nadzar.

***

Bukan tanpa alasan kami memilih Jabung sebagai tujuan kunjungan kami menggunakan sepeda angin ini. Jabung berada di luar kota Ponorogo — syarat nadzar kami. Tempat itu tak terlampau jauh dijangkau dari kota. Dan ini yang penting, ketika tiba di Jabung, maka rasa dahaga kami sudah tersedia obatnya di daerah itu. Karena Jabung terkenal dengan dawet Jabung yang khas.

Sawah arah Jabung

Sepanjang jalan 6 km dari kota ke arah selatan Ponorogo adalah jarak yang tak terlampau jauh untuk ditempuh. Apalagi bersepeda angin sambil berbincang tentang masa 17 tahun yang lewat, membuat jarak serasa begitu dekat. Sawah yang masih menghijau di kanan kiri jalan membuat pegal linu di tungkai seperti terusir diam-diam. Bahkan ketika cerita belum selesai, tempat tujuan sudah tercapai. Kamipun lantas menghabiskan cerita nostalgia itu dengan duduk-duduk di rerimbunan pohon pinggir jalan, sambil melepas lelah.

***

Jabung bisa ditempuh lewat jalur Jeruk Sing, Siman, atau memutar melalui Dengok, selatan Alun-alun kota Ponorogo. Berjarak sekitar 6 km dari Jeruk Sing. Tempat itu bisa dijangkau dengan mobil angkutan umum, dokar, atau bersepeda angin seperti saya. Tentu saja silakan jika Anda bermobil pribadi atau bersepeda motor.

Tempat itu dekat dengan Mlarak, tempat di mana komplek Pondok Pesantren Gontor yang terkenal itu berada. Perempatannya merupakan persimpangan ke PP Gontor (Timur), Jetis (Selatan), PP Ngabar (Barat), serta Siman di utara. Di perempatan itulah pusat penjual dawet Jabung mangkal, turun-temurun.

Warung Bu Sumiani

Salah seorang diantaranya, yang telah sangat lama berjualan di sana adalah Hj. Sumiani. Warungnya terletak di pojok Timur-Selatan perempatan Jabung. Strategis, karena terlihat dari hampir setiap tempat. Tak terlampau besar, tetapi lengkap. Dan yang penting, tak pernah sepi pengunjung. Di sanalah kami puaskan rasa dahaga dan rindu. Dua mangkok dawet dan empat penganan serasa sama dengan makan siang.

Penjual dawet

Dan seperti tercengang yang direncanakan, meski kami memborong 28 mangkok dawet dan 45 penganan, kami hanya mengeluarkan kocek Rp. 32.500,- saja! Tentu sebagian (besar) kami bawa pulang untuk keluarga.

***

Jika Anda ke Ponorogo, tak lengkap rasanya jika tak menyempatkan diri mencicipi dawet Jabung yang melegenda dan masih super murah ini. Meski sayang keberadaannya seperti tidak mendapatkan perhatian yang serius dari pemda setempat (dari tahun ke tahun tak ada pertambahan dan pertumbuhan yang berarti), tetapi setidaknya Jabung masih menjadi tujuan wisata kuliner yang layak untuk dikunjungi.

~ Bahtiar HS | Ponorogo, 18 Agustus 2007