Sehari selepas HUT Kemerdekaan RI ke-62. 18 Agustus 2007. Orang-orang masih berpanjat pinang atau berbalap karung. Tetapi bagi kami, tak ada yang lebih penting ketimbang mengayuh sepeda kumbang menuju luar kota.

Nadzar Sepeda

Hari ini, kami tunaikan nadzar kami 17 tahun yang lalu. Bahwa jika kami lulus UMPTN dan diterima di Perguruan Tinggi pilihan, maka kami akan mengadakan perjalanan naik sepeda angin keluar kota Ponorogo. Maka diterimalah saya di Jurusan Teknik Komputer ITS Surabaya. Sedangkan Mohan, sahabat senasib senadzar itu, diterima di Fakultas Psikologi UGM Jogjakarta — yang kemudian tak benar-benar dimasukinya itu.

Sebuah nadzar yang terkesan main-main barangkali. Karenanya tak heran jika isteri saya masih setengah percaya setengah tidak ketika kami putuskan untuk pulang di HUT RI ke-62 ini untuk menyelesaikan nadzar yang tertunda 17 tahun itu. Bagaimanapun, sesederhana apapun, nadzar tetaplah nadzar.

***

Bukan tanpa alasan kami memilih Jabung sebagai tujuan kunjungan kami menggunakan sepeda angin ini. Jabung berada di luar kota Ponorogo — syarat nadzar kami. Tempat itu tak terlampau jauh dijangkau dari kota. Dan ini yang penting, ketika tiba di Jabung, maka rasa dahaga kami sudah tersedia obatnya di daerah itu. Karena Jabung terkenal dengan dawet Jabung yang khas.

Sawah arah Jabung

Sepanjang jalan 6 km dari kota ke arah selatan Ponorogo adalah jarak yang tak terlampau jauh untuk ditempuh. Apalagi bersepeda angin sambil berbincang tentang masa 17 tahun yang lewat, membuat jarak serasa begitu dekat. Sawah yang masih menghijau di kanan kiri jalan membuat pegal linu di tungkai seperti terusir diam-diam. Bahkan ketika cerita belum selesai, tempat tujuan sudah tercapai. Kamipun lantas menghabiskan cerita nostalgia itu dengan duduk-duduk di rerimbunan pohon pinggir jalan, sambil melepas lelah.

***

Jabung bisa ditempuh lewat jalur Jeruk Sing, Siman, atau memutar melalui Dengok, selatan Alun-alun kota Ponorogo. Berjarak sekitar 6 km dari Jeruk Sing. Tempat itu bisa dijangkau dengan mobil angkutan umum, dokar, atau bersepeda angin seperti saya. Tentu saja silakan jika Anda bermobil pribadi atau bersepeda motor.

Tempat itu dekat dengan Mlarak, tempat di mana komplek Pondok Pesantren Gontor yang terkenal itu berada. Perempatannya merupakan persimpangan ke PP Gontor (Timur), Jetis (Selatan), PP Ngabar (Barat), serta Siman di utara. Di perempatan itulah pusat penjual dawet Jabung mangkal, turun-temurun.

Warung Bu Sumiani

Salah seorang diantaranya, yang telah sangat lama berjualan di sana adalah Hj. Sumiani. Warungnya terletak di pojok Timur-Selatan perempatan Jabung. Strategis, karena terlihat dari hampir setiap tempat. Tak terlampau besar, tetapi lengkap. Dan yang penting, tak pernah sepi pengunjung. Di sanalah kami puaskan rasa dahaga dan rindu. Dua mangkok dawet dan empat penganan serasa sama dengan makan siang.

Penjual dawet

Dan seperti tercengang yang direncanakan, meski kami memborong 28 mangkok dawet dan 45 penganan, kami hanya mengeluarkan kocek Rp. 32.500,- saja! Tentu sebagian (besar) kami bawa pulang untuk keluarga.

***

Jika Anda ke Ponorogo, tak lengkap rasanya jika tak menyempatkan diri mencicipi dawet Jabung yang melegenda dan masih super murah ini. Meski sayang keberadaannya seperti tidak mendapatkan perhatian yang serius dari pemda setempat (dari tahun ke tahun tak ada pertambahan dan pertumbuhan yang berarti), tetapi setidaknya Jabung masih menjadi tujuan wisata kuliner yang layak untuk dikunjungi.

~ Bahtiar HS | Ponorogo, 18 Agustus 2007