Satu hal yang mengkhawatirkan tinggal di Bangkok adalah mencari makanan yang halal. Dikenal sebagai negara buddist dengan 94% dari penduduknya beragama Budha, maka urusan makan-memakan menjadi amat krusial.

Beruntung sebelum terbang ke Bangkok, saya pernah bertanya pada seorang teman, dosen UPN Surabaya, yang sedang study di Bangkok. Dia bilang kalau di sekitar Imperial Hotel ada restoran orang Melayu muslim. InsyaAllah menjual makanan yang halal, karena beberapa kru Garuda Indonesia Airways suka makan di area itu.

Dan begitulah pada malam 23 April, diantara acara Pameran di Asian Energy Week (23-27 April 2007) kami mencari area itu. Dari sepanjang jalan Sukhumvit Soi 22 yang melintas di depan hotel, kami hanya menemukan SATU saja restoran muslim food, bernama: Usman Thai Muslim Food. Ini papan namanya:

Thai muslim food

Restoran ini dikelola oleh keluarga Samard Yama (yang mengambil nama “Usman” sebagai nama muslim), seorang warga Pattani di Thailand selatan yang hijrah ke Bangkok untuk mengadu nasib. Ia menjadi pegawai hotel sekaligus membuka restoran muslim, karena melihat peluang banyaknya tamu muslim yang kesulitan mendapatkan makanan halal.

Orangnya ramah, dan hebatnya bisa berbahasa melayu / Indonesia, sehingga sangat akrab dengan para tamunya yang kebanyakan juga orang Malaysia, Indonesia, Thailand, dan Brunei. Harga makanannya juga tidak terlalu mahal untuk ukuran kota besar semacam Bangkok. Sekali makan untuk dua orang dengan menu 1 porsi ikan Kakap goreng bumbu Tom Yam, 2 porsi nasi goreng, 2 porsi tahu goreng, 1 gelas jus mangga, dan 1 gelas jus kelapa muda hanya menghabiskan 355 Baht (setara Rp. 99.400,- pada kurs 1 Baht = Rp. 280,-)

Usman dan Bahtiar

Pict. Usman dan salah seorang temannya. Yang mana Pak Usman?

Sekali waktu, pada hari ketiga di Bangkok, kami mencari alternatif restoran lain. Teman dari Brunei merekomendasikan restoran Sahrazad, restoran Arab di bilangan Sukhumvit Soi Nana 3/1. Kami harus naik Sky Train dari Phrompon di sebelah hotel menuju Nana, dua stasiun ke arah Barat. Tiket kereta atas ini 20 Baht per orang. Hanya dalam 5 menit kami sudah sampai di stasiun Nana. Jalan kaki sebentar ke Soi 3, kami segera mendapatkan restoran dimaksud diantara restoran Persia, India, Melayu dan restoran Thailand lainnya.

Menu di restoran Sahrazad ini didominasi makanan ala Timur Tengah: isinya kambing melulu; memenuhi hampir 3/4 dari buku menunya. Kami bertiga, cukup mahal, menghabiskan 590 Baht.

Pulang dari Sahrazad kami naik taksi kota Bangkok dan hanya perlu membayar 35 Baht untuk sampai di depan hotel.

Satu hal yang begitu khas tentang makanan di sini setidaknya 2 hal: pertama, setiap makanan pasti dibarengi dengan sayuran segar (wortel merah, sawi, bawang bombay, paprica, timun, tomat, etc). Mungkin karena Thailand adalah negara mayoritas buddist yang suka vegetarian. Dan kedua, baunya menyengat, yang bagi hidung bangsa Asia Selatan seperti saya dan teman-teman tidaklah familiar. Rasanya jijik, seperti bau masakan berminyak berlemak-lemak yang keterlaluan.

Setidaknya kami jadi tahu, suatu saat barangkali kalau berkesempatan ke Bangkok lagi, mungkin sebaiknya kita membawa ransum sendiri dari Indonesia!