Peta Cafe Omah Sendok


Jalan Empu Sendok 45 Jakarta Selatan. Suatu petang di penghujung Pebruari 2006.

Berderet mobil. Satpam yang ramah dan rapi. Café Omah Sendok yang tampak tenang dari luar, tapi jelas pikuk di dalam. Kubuka pintu dan sambutan ramah telah menanti. Di Selasar Omah, pekarangan belakang, katanya santun sambil menunjukiku dan membuka pintu samping. Sempat kulirik berderet buku Galery Lilin di depan, cindera mata mungkin, coklat dan kawan-kawan. Beberapa orang makan. Atau sekedar minum. Ini Café apaan, tanyaku dalam-dalam.

Begitu masuk ke Selasar Omah, aku langsung jatuh hati. Aku pengin memiliki selasar seperti ini, kataku pada kawan seperjalananku. Kebun yang menghijau diterangi temaram lampu di sela-sela perdu. Nyala obor berasap di beberapa tempat. Juga lilin-lilin yang dilarung pada kolam bening-biru di tengah-tengah rumah ijuk-kayu-bambu yang mengapitnya. Lantai ulin. Krapyak anyaman buluh bambu. Ah, aku membayangkan betapa indahnya andai saja kursinya berupa lincak kayu mahoni. Tapi yang ada hanyalah kursi-besi-merah-resepsi. Tak apalah. Setidaknya hal itu masih mengingatkanku bahwa perhelatan ini bukan terjadi di sebuah persinggahan lereng bukit, melainkan kota besar macam Jakarta.

Selasar Omah
Pict. Seting Selasar Omah (diambil dari: www.jenzcorner.com)

Endah Sulwesi, seorang yang kukenal di ranah maya baru dalam hitungan hari, telah menulis namanya di urutan ketiga di daftar hadir. Ada cellular-phone-nya di sana. Namun, sekali lagi kuingatkan diriku, bahwa kali ini aku hanya ingin menjadi penikmat saja. Datang tidak menggenapi, pergi pun tidak akan mengurangi. Mungkin lain kali, suatu saat entah.

Jadi, inilah yang kulakukan. Menambah profit Galeri Lilin dengan membeli beberapa buku. Mengambil nasi goreng ulam, irisan telur goreng, rebusan kacang-ijo, dan membubuhinya dengan ‘serpihan’ mentimun. (Pelit amat Mbak Eli, si tuan rumah, pikirku melihat irisan mentimun itu. Aku menyebutnya “mentimun dua dimensi”. Mana nggak ada kerupuk lagi!) Mengambil tempat di sayap kanan, di bawah lampu makan berbentuk kerucut, aku melahap santap malam itu diam-diam. Ketika Uda Akmal, seseorang yang juga baru kukenal di dunia maya disamping baris-baris SMS, lewat di depan mata (aku mencocokkan wajahnya dengan foto di belakang Imperia yang kubeli) dan mata kami bertumbuk, ia tersenyum, aku pun hanya refleks tersenyum dan ngempet menyapa. (Salah sendiri di bawah emailmu tercantum kalimat itu, Kang: charm is universal. when you don’t speak the language, a warm smile says it all.)

Ketika Mas Kurnia Effendi alias Kef duduk di kursi baris depanku (lagi-lagi aku hanya pernah melihatnya di Bercinta di Bawah Bulan. Tapi aku tak mengira ia ‘segemuk’ ini!), aku pun hanya diam; sampai ia bergeser sendiri ke belakang. Aku maklumi saja, karena itulah konsekuensi menenteng kamera dalam sebuah acara.

Agak beruntung, sebelum Idrus Shahab menyihir dengan petikan gitarnya ber-flamingco-ria, Dewi Lestari, si pusat perhatian malam itu, mengambil duduk tepat di kursi sampingku yang kosong. Ini namanya ‘ulo marani gepuk’. Gak usah susah-payah memburu, dia malah dengan sukarela mendekat.

“Langsung dari Bandung?” tanyaku, tentu saja basa-basi. Maksud sebenarnya terjadi kemudian: aku menyodorinya Filosofi Kopi untuk dibubuhi otografnya. Kali ini aku terpaksa menyebut nama. “To: Bahtiar. Enjoy!” tulisnya di sana.

Mas Idrus pun selesai dengan genjrengan-nya. Dee, Pak Mudji (ia ingin tak dipanggil ‘Romo’), Akmal, dan Idrus naik panggung terbuka. Wajah-wajah mereka seperti siluet, karena sorot lampu panggung menyiram dari arah belakang kepala mereka. Bukan dari depan. Mungkin karena di depan mereka terbentang kolam.

Jam delapan malam. Bulan seperti tak kelihatan, meski langit tak berawan. Dan, pencarian Tuhan pun segera dimulai.

***

“Apakah berdosa jika saya meninggalkan khotbah misa sekadar untuk mengejar matahari jingga senja hari yang keindahannya begitu sempurna? Saya bahkan sangat menikmati waktu yang hanya dua menit sebelum matahari tenggelam itu. Semesta membentang dan diri ini serasa begitu kecil. Justru dua menit itu sungguh telah menggantikan seluruh pencarian saya sejak kecil.”

“Saya penganut budhism. Tetapi, tidak seperti Pak Mudji katakan tentang budhism, saya sendiri justru sedang melakukan ‘pemberontakan’ terhadap budhism. Karena, budhism di Indonesia ini lucu. Dalam pemahaman saya, budhism tidak memiliki Tuhan. Tetapi, di Indonesia, budhism dipaksa untuk ‘menciptakan’ Tuhan pada masa Orba. Jika tidak, ia akan dicap sebagai komunis.”

“Bagi saya, menjadi Tantrayana atau Theravada tidaklah penting. Karena, spiritualitas yang saya alami jauh mengatasi sekadar penggolongan seperti itu.”

“Tuhan terlanjur menjadi pengutuk di Indonesia ini. Agama terlalu banyak mengancam dengan neraka. Itulah yang terjadi jika agama sekedar institusional. Ia cenderung memasung dan memaksa.”

Ungkapan-ungkapan semacam itu, termasuk “anaa al-haq”, meluncur begitu saja di forum ini, tanpa beban atau pretensi. Seperti sesuatu yang sudah common; yang jamak; bagian dari daily dialogs. Sharing sesuatu yang berat dan serius dengan sangat terbuka, santai dan … asyik. Tak ada caci-maki, tak ada saling hujat. Semua mendengar. Semua menyimak. Termasuk Pak Fuad Hasan yang sudah sepuh tapi masih tampak energik. Bahkan Kang Akmal, sang moderator, tidak pernah meng-cut pembicaraan seseorang kecuali membiarkannya tuntas mengalir, sehingga ada yang bahkan baca puisi segala!

Aku menikmati pertunjukan ini. Meski akhirnya keluar cukup jauh dari tema, tetapi setidaknya masih dalam ranah spiritualitas, meski sudah bukan ranah prosa lagi. Pencarian akan kekuatan spiritual — the great of me, kata Dee, kalau tak salah — nampaknya jauh lebih penting ketimbang membincang teks Supernova. Dan bagai seorang yang haus yang terus mencari mata air, terbukti masing-masing diri ternyata memiliki pengalaman dalam pencarian panjang ini. Yang unique, tak sama, meski mengambil jalan yang sama. Apalagi jalan yang tak sama. Dee mengaku mengambil jalan dari ilmu pengetahuan untuk mencapai Tuhan. Ada yang melalui diskusi (atau perdebatan?) intens. Ada yang mengambil tasawuf, yang dikatakannya sebagai begitu nikmat dan indah dibanding fatwa ulama yang cenderung kering. Ada yang melalui tarian darwis yang mabuk dan memabukkan hanya dalam hitungan menit. Ada yang melanglang buana, menemui peristiwa segala.

Tuhan ada di mana-mana, kata Mbak Novi, mengutip neneknya. Karena itu, ibu orang tuanya itu tak ber-KTP hanya karena harus mencantumkan sebuah agama. Sampai ketika saat meninggal pun, neneknya berpesan jangan sampai melabeli jenazahnya dengan agama tertentu. Dan masyarakat menstigma sikap spiritualistis seperti ini dengan cap “kafir” yang bagi Novi kecil (9 tahun) begitu menyeramkan dan menggelisahkan. Mengapakah agama cenderung memaksa, men-judge begitu rupa yang kadang malah memberi kesan betapa Tuhan begitu “kejamnya”?

Dan baru pada Supernova ia menemukan sepercik jawaban pertanyaan masa kecilnya itu. Apalagi ketika membaca Petir, ia merasa pada episode inilah Tuhan menjelma begitu lucu dan santai, jauh dari yang pernah ia bayangkan di masa kecil.

Tentu saja tidak akan cukup ruang ini jika semua sharing pengalaman diceritakan. Belum termasuk pengalamanku sendiri. Tetapi, sekali lagi, aku hanya ingin menjadi penikmat saja kali ini. Dan memang begitu nikmat berkumpul di sebuah forum dengan “energi” yang sama, sampai tak terasa waktu sudah beranjak larut, meski pencarian akan Tuhan malam itu jauh dari usai. Dan mungkin tak akan pernah selesai, karena aku yakin Tuhan sangat senang jika hamba-Nya mau mencari-Nya dari beraneka jalan. Bukahkah jika hamba-Nya mendatangi-Nya dengan berjalan, Ia akan menyambutnya dengan berlari?

***

Pada forum inilah aku jadi tahu beda ketiga diva itu. Djenar, Ayu Utami, dan Dee. Jika Djenar ibarat kopi tubruk yang hangat, meledak-ledak, sangat berasa, dan membuat semua orang “seger-kebakaran”, maka Ayu laksana kopi pabrikan, well-manufactured, yang racikannya serba dihitung, ditakar sedemikian rupa sehingga menimbulkan aroma dan rasa yang pas dan nikmat bagi yang meminumnya. Sedang kopi Dee, justru membuat yang minum menghentikan minum kopinya dan beralih pada minuman yang lain.

Ha ha ha. Sebuah analogi yang tepat sekaligus promosi yang hebat atas buku barunya: Kopi Filosofi. Bagaimanapun membaca Dee lewat Supernova ataupun Kopi Filosofinya terbukti membuat kita kadang harus berhenti, mencerna, berkerut, untuk kemudian meneruskannya atau membuangnya karena nggak paham, kalau tidak membosankan. Kalau yang terakhir itu yang terjadi, mungkin jalan mencari Tuhan Anda tidak sama dengan Dee. Jadi, tak perlu dipermasalahkan, bukan? []