You are currently browsing the category archive for the ‘WisataKuliner’ category.

Gotong Royong nelayan

Saya masih ingat. Tahun 1996. Di Ponorogo, kota kelahiran saya.

Waktu itu mula-mula ada seorang dan hanya dia satu-satunya penjual penganan Pisang Molen. Namanya: Pisang Molen Jakarta. Tempatnya di depan SMP 1 Ponorogo, tempat saya pernah bersekolah. Pisang Molen bagi warga kota reog ini merupakan penganan baru yang mengundang penasaran untuk dicoba. Kala itu, tentu saja. Padahal isinya sangat sederhana. Potongan pisang dibungkus lapisan tepung yang kalau digoreng menghasilkan sejenis pisang goreng yang berbungkus tepung, renyah dan gurih.

Tak heran, setiap sore, bahkan ketika si penjual baru saja datang dan mempersiapkan gorengan pertamanya, pelanggan sudah antri mengerumun untuk membeli. Larisnya minta ampun!

Tak lebih dari sebulan kemudian, bermunculanlah penjual Pisang Molen di sekitar Pisang Molen Jakarta. Entah dari mana mereka mendapatkan resep membuat penganan itu, tetapi setidaknya dari tampilan fisik, mereka membuat dan menjual penganan yang sama dengan nama yang sama. Pisang Molen. Walhasil, berpuluh penjual Pisang Molen berderet berjajar di sepanjang jalan Soekarno-Hatta itu. Tentu saja rasa berbeda-beda, kualitas berbeda-beda, besar kecil penganan berbeda-beda, harga berbeda-beda. Sangat bervariasi. Pelanggan tentu saja terbagi. Pisang Molen Jakarta pun pamornya meredup, setidaknya sama saja dengan penjual Pisang Molen lainnya yang belakangan bermunculan.

Kini Pisang Molen bukan lagi pemandangan luar biasa di sepanjang jalan itu.

***

Beberapa tahun belakangan ini, bermunculan toko-toko swalayan berskala kecil, tetapi ditopang oleh modal dari pengusaha kakap. Sebut saja: IndoMaret, AlfaMaret. Beberapa pemain lain, yang lebih kecil juga bermunculan.

Ada satu hal yang menarik perhatian saya. Mereka seringkali mendirikan swalayan itu di pusat keramaian orang, dekat kampus, dekat perumahan atau perkampungan penduduk, atau dekat pasar. Tentu saja untuk mendekati calon pelanggan mereka, yang itu sayangnya adalah pelanggan lama toko-toko kecil (mracangan) yang dikelola secara tradisional yang lebih dulu ada di daerah itu. Padahal, apa yang mereka jual sama dengan yang dijual oleh mracangan. Bahkan lebih lengkap disamping lebih nyaman, lebih terjamin, ada diskon atau hadiah ini-itu. Mana ada toko mracangan berhadiah?

Tentu hasilnya bisa diduga. Swalayan-swalayan yang datang belakangan itu, yang tentu saja dikelola dengan lebih modern dan pelayanan yang lebih baik, banyak menggeser pemain-pemain tradisional yang telah ada sebelumnya. Tak sedikit dari mereka yang usahanya kemudian meredup. Kembang-kempis. Dan … gulung tikar.

***

Apakah Islam membolehkan praktek perdagangan semacam itu? Saya sedang mencari tahu jawabnya. Tetapi, hati kecil ini mengatakan, jika sebuah usaha mematikan usaha saudaranya yang – apalagi — juga tetangganya, usaha itu tidak akan membawa berkah.

***

Tanggal 5 Mei 2006.

Media massa masih meributkan demo Buruh 3 Mei di DPR RI yang berakhir rusuh. Saya sendiri sedang berkunjung ke Sinaboi, sebuah tempat yang bisa dijangkau bermobil dari Dumai ke Bagan Siapi-api selama 3 jam. Lalu masih harus dilanjut dengan bersepeda motor (ojek) melewati jalan batu dan tanah di sepanjang tepi pantai sejauh 1 jam perjalanan. Beberapa bagian diantaranya terendam air dan rusak. Rumah penduduk jarang-jarang. Menjelang Sinaboi, kami harus melewati jembatan kayu sempit yang bolong disana-sini, yang jika berpapasan dengan sepeda lain dan bersenggolan, dapat dipastikan keduanya akan jatuh kecebur sungai berair payau. Hampir tak menyangka sebelumnya jika ternyata di ujung perjalanan ini terdapat sebuah daerah yang berpenghuni.

Jalan becek menuju Sinaboi
Jalan becek menuju Sinaboi.

Jembatan Kayu
Jembatan Kayu pintu gerbang Sinaboi

Sinaboi adalah sebuah kampung nelayan. Di tepian Selat Malaka. Dulu ramai, karena pinggir pantainya masih berkedalaman 20 meter lebih sehingga kapal-kapal besar bisa singgah di sini. Tapi sekarang, kedalaman pantainya hanya 0 meter jika surut dan paling-paling 1-2 meter jika pasang. Banyak kapal akhirnya bertambat di pantai lain. Dan banyak orang Sinaboi berpindah ke tempat lain.

Kampung Sinaboi
Kampung nelayan Sinaboi.

Rumah mereka disusun dari kayu di atas rawa-rawa bibir pantai. Sulit air, apalagi jika hujan tak datang. Jalan-jalan dibuat dari beton atau kayu selebar dua sepeda motor. Kebanyakan penduduknya China perantauan. Namun banyak diantaranya yang menikah dengan penduduk setempat yang kebanyakan Melayu. Dan menjadi muslim. Seperti Kak Pao, demikian Pak Susakri, Komandan UGK Sinaboi yang mengantar kami menyebut nama wanita itu.

Siang itu, selepas meninjau instalasi Radar pemantau Selat Malaka di tempat ini, kami menyantap makan siang di kedai makanan Kak Pao. Tempatnya sederhana. Bersebelahan dengan rumah-rumah kayu lainnya. Hampir semuanya China. Di dindingnya terpasang Ayat-ayat Kursi berbingkai rapi dan foto keluarga besar mereka, kontras dengan rumah-rumah lain yang rata-rata di ruang tamunya terpasang seperangkat sesembahan pada leluhur berwarna merah menyala, lengkap dengan dupa atau mio berasap.

Kedai Kak Pao

Berbagai jenis makanan disajikan. Ikan Sembilang pedas. Ikan asin goreng. Kare kepala ikan. Ayam goreng. Sambal terong. Kering tempe kacang goreng pedas. Dan sebakul nasi. Satu hal yang menarik perhatian saya: minuman. Kak Pao tidak sedia minuman, tetapi mengambil minuman sesuai pesanan ke kedai kopi di sebelah kanan kedai.

“Ibu memang tidak menyediakan minuman?” tanya saya pada Kak Pao sambil mencomot sepotong ikan Sembilang.

“Tidak,” jawabnya ramah. “Kami hanya menyediakan makanan saja. Minumannya kami ambil dari kedai sebelah.”

Tak lama kemudian, minuman pesanan kami datang dari kedai kopi sebelah. Seorang ibu berwajah China mengantarkannya dalam nampan. Empat gelas es teh segar.

“Apakah ada semacam peraturan di sini yang tidak memperbolehkan Ibu menjual selain makanan?” tanya saya memancing.

“Tak ada,” jawab Kak Pao.

“Tapi memang tak boleh ya Ibu menjual minuman sendiri?” tanya saya lagi.

“Boleh saja,” katanya. “Kami boleh berjualan minuman juga.”

“Lantas kenapa Ibu tidak menjual minuman di sini dan hanya mengambil dari kedai sebelah?” kejar saya.

Kak Pao tersenyum. “Yah, hanya segan-menyeganlah. Dari dulu sudah begini,” katanya. “Kalau kami perlu minuman, kami mengambil dari sebelah. Jika tamu di sebelah memerlukan makanan, mereka memesan di sini untuk dimakan di sana.”

Saya mengangguk-angguk.

Segan-menyegan. Sebuah filosofi yang Melayu banget. Berpijak pada filosofi sederhana itu, mereka bisa berjualan berdampingan seharmonis ini. Tidak bersaingan. Tetapi, sinergi. Dan itu dipraktekkan Kak Pao dan tetangganya di kampung nelayan di tepian Selat Malaka yang nun jauh di ujung dunia ini. Di sini bahkan tak ada hiburan kecuali TV. Angka kejahatan kecil, bahkan nyaris tak ada. Tetapi, etika berdagang yang luhur itu justru masih bisa dijumpa.

Setelah kami membayar makan dan minum, Kak Pao menyuruh anak gadisnya menyerahkan uang minuman pada kedai kopi sebelah.

***

Segan-menyegan. Begitu sederhana. Andai itu diterapkan para penjual Pisang Molen di kota saya, barangkali Pisang Molen Jakarta akan tetap ramai dikunjungi orang hingga hari ini.

***

Sinaboi, 9 Mei 2006

Peta Cafe Omah Sendok


Jalan Empu Sendok 45 Jakarta Selatan. Suatu petang di penghujung Pebruari 2006.

Berderet mobil. Satpam yang ramah dan rapi. Café Omah Sendok yang tampak tenang dari luar, tapi jelas pikuk di dalam. Kubuka pintu dan sambutan ramah telah menanti. Di Selasar Omah, pekarangan belakang, katanya santun sambil menunjukiku dan membuka pintu samping. Sempat kulirik berderet buku Galery Lilin di depan, cindera mata mungkin, coklat dan kawan-kawan. Beberapa orang makan. Atau sekedar minum. Ini Café apaan, tanyaku dalam-dalam.

Begitu masuk ke Selasar Omah, aku langsung jatuh hati. Aku pengin memiliki selasar seperti ini, kataku pada kawan seperjalananku. Kebun yang menghijau diterangi temaram lampu di sela-sela perdu. Nyala obor berasap di beberapa tempat. Juga lilin-lilin yang dilarung pada kolam bening-biru di tengah-tengah rumah ijuk-kayu-bambu yang mengapitnya. Lantai ulin. Krapyak anyaman buluh bambu. Ah, aku membayangkan betapa indahnya andai saja kursinya berupa lincak kayu mahoni. Tapi yang ada hanyalah kursi-besi-merah-resepsi. Tak apalah. Setidaknya hal itu masih mengingatkanku bahwa perhelatan ini bukan terjadi di sebuah persinggahan lereng bukit, melainkan kota besar macam Jakarta.

Selasar Omah
Pict. Seting Selasar Omah (diambil dari: www.jenzcorner.com)

Endah Sulwesi, seorang yang kukenal di ranah maya baru dalam hitungan hari, telah menulis namanya di urutan ketiga di daftar hadir. Ada cellular-phone-nya di sana. Namun, sekali lagi kuingatkan diriku, bahwa kali ini aku hanya ingin menjadi penikmat saja. Datang tidak menggenapi, pergi pun tidak akan mengurangi. Mungkin lain kali, suatu saat entah.

Jadi, inilah yang kulakukan. Menambah profit Galeri Lilin dengan membeli beberapa buku. Mengambil nasi goreng ulam, irisan telur goreng, rebusan kacang-ijo, dan membubuhinya dengan ‘serpihan’ mentimun. (Pelit amat Mbak Eli, si tuan rumah, pikirku melihat irisan mentimun itu. Aku menyebutnya “mentimun dua dimensi”. Mana nggak ada kerupuk lagi!) Mengambil tempat di sayap kanan, di bawah lampu makan berbentuk kerucut, aku melahap santap malam itu diam-diam. Ketika Uda Akmal, seseorang yang juga baru kukenal di dunia maya disamping baris-baris SMS, lewat di depan mata (aku mencocokkan wajahnya dengan foto di belakang Imperia yang kubeli) dan mata kami bertumbuk, ia tersenyum, aku pun hanya refleks tersenyum dan ngempet menyapa. (Salah sendiri di bawah emailmu tercantum kalimat itu, Kang: charm is universal. when you don’t speak the language, a warm smile says it all.)

Ketika Mas Kurnia Effendi alias Kef duduk di kursi baris depanku (lagi-lagi aku hanya pernah melihatnya di Bercinta di Bawah Bulan. Tapi aku tak mengira ia ‘segemuk’ ini!), aku pun hanya diam; sampai ia bergeser sendiri ke belakang. Aku maklumi saja, karena itulah konsekuensi menenteng kamera dalam sebuah acara.

Agak beruntung, sebelum Idrus Shahab menyihir dengan petikan gitarnya ber-flamingco-ria, Dewi Lestari, si pusat perhatian malam itu, mengambil duduk tepat di kursi sampingku yang kosong. Ini namanya ‘ulo marani gepuk’. Gak usah susah-payah memburu, dia malah dengan sukarela mendekat.

“Langsung dari Bandung?” tanyaku, tentu saja basa-basi. Maksud sebenarnya terjadi kemudian: aku menyodorinya Filosofi Kopi untuk dibubuhi otografnya. Kali ini aku terpaksa menyebut nama. “To: Bahtiar. Enjoy!” tulisnya di sana.

Mas Idrus pun selesai dengan genjrengan-nya. Dee, Pak Mudji (ia ingin tak dipanggil ‘Romo’), Akmal, dan Idrus naik panggung terbuka. Wajah-wajah mereka seperti siluet, karena sorot lampu panggung menyiram dari arah belakang kepala mereka. Bukan dari depan. Mungkin karena di depan mereka terbentang kolam.

Jam delapan malam. Bulan seperti tak kelihatan, meski langit tak berawan. Dan, pencarian Tuhan pun segera dimulai.

***

“Apakah berdosa jika saya meninggalkan khotbah misa sekadar untuk mengejar matahari jingga senja hari yang keindahannya begitu sempurna? Saya bahkan sangat menikmati waktu yang hanya dua menit sebelum matahari tenggelam itu. Semesta membentang dan diri ini serasa begitu kecil. Justru dua menit itu sungguh telah menggantikan seluruh pencarian saya sejak kecil.”

“Saya penganut budhism. Tetapi, tidak seperti Pak Mudji katakan tentang budhism, saya sendiri justru sedang melakukan ‘pemberontakan’ terhadap budhism. Karena, budhism di Indonesia ini lucu. Dalam pemahaman saya, budhism tidak memiliki Tuhan. Tetapi, di Indonesia, budhism dipaksa untuk ‘menciptakan’ Tuhan pada masa Orba. Jika tidak, ia akan dicap sebagai komunis.”

“Bagi saya, menjadi Tantrayana atau Theravada tidaklah penting. Karena, spiritualitas yang saya alami jauh mengatasi sekadar penggolongan seperti itu.”

“Tuhan terlanjur menjadi pengutuk di Indonesia ini. Agama terlalu banyak mengancam dengan neraka. Itulah yang terjadi jika agama sekedar institusional. Ia cenderung memasung dan memaksa.”

Ungkapan-ungkapan semacam itu, termasuk “anaa al-haq”, meluncur begitu saja di forum ini, tanpa beban atau pretensi. Seperti sesuatu yang sudah common; yang jamak; bagian dari daily dialogs. Sharing sesuatu yang berat dan serius dengan sangat terbuka, santai dan … asyik. Tak ada caci-maki, tak ada saling hujat. Semua mendengar. Semua menyimak. Termasuk Pak Fuad Hasan yang sudah sepuh tapi masih tampak energik. Bahkan Kang Akmal, sang moderator, tidak pernah meng-cut pembicaraan seseorang kecuali membiarkannya tuntas mengalir, sehingga ada yang bahkan baca puisi segala!

Aku menikmati pertunjukan ini. Meski akhirnya keluar cukup jauh dari tema, tetapi setidaknya masih dalam ranah spiritualitas, meski sudah bukan ranah prosa lagi. Pencarian akan kekuatan spiritual — the great of me, kata Dee, kalau tak salah — nampaknya jauh lebih penting ketimbang membincang teks Supernova. Dan bagai seorang yang haus yang terus mencari mata air, terbukti masing-masing diri ternyata memiliki pengalaman dalam pencarian panjang ini. Yang unique, tak sama, meski mengambil jalan yang sama. Apalagi jalan yang tak sama. Dee mengaku mengambil jalan dari ilmu pengetahuan untuk mencapai Tuhan. Ada yang melalui diskusi (atau perdebatan?) intens. Ada yang mengambil tasawuf, yang dikatakannya sebagai begitu nikmat dan indah dibanding fatwa ulama yang cenderung kering. Ada yang melalui tarian darwis yang mabuk dan memabukkan hanya dalam hitungan menit. Ada yang melanglang buana, menemui peristiwa segala.

Tuhan ada di mana-mana, kata Mbak Novi, mengutip neneknya. Karena itu, ibu orang tuanya itu tak ber-KTP hanya karena harus mencantumkan sebuah agama. Sampai ketika saat meninggal pun, neneknya berpesan jangan sampai melabeli jenazahnya dengan agama tertentu. Dan masyarakat menstigma sikap spiritualistis seperti ini dengan cap “kafir” yang bagi Novi kecil (9 tahun) begitu menyeramkan dan menggelisahkan. Mengapakah agama cenderung memaksa, men-judge begitu rupa yang kadang malah memberi kesan betapa Tuhan begitu “kejamnya”?

Dan baru pada Supernova ia menemukan sepercik jawaban pertanyaan masa kecilnya itu. Apalagi ketika membaca Petir, ia merasa pada episode inilah Tuhan menjelma begitu lucu dan santai, jauh dari yang pernah ia bayangkan di masa kecil.

Tentu saja tidak akan cukup ruang ini jika semua sharing pengalaman diceritakan. Belum termasuk pengalamanku sendiri. Tetapi, sekali lagi, aku hanya ingin menjadi penikmat saja kali ini. Dan memang begitu nikmat berkumpul di sebuah forum dengan “energi” yang sama, sampai tak terasa waktu sudah beranjak larut, meski pencarian akan Tuhan malam itu jauh dari usai. Dan mungkin tak akan pernah selesai, karena aku yakin Tuhan sangat senang jika hamba-Nya mau mencari-Nya dari beraneka jalan. Bukahkah jika hamba-Nya mendatangi-Nya dengan berjalan, Ia akan menyambutnya dengan berlari?

***

Pada forum inilah aku jadi tahu beda ketiga diva itu. Djenar, Ayu Utami, dan Dee. Jika Djenar ibarat kopi tubruk yang hangat, meledak-ledak, sangat berasa, dan membuat semua orang “seger-kebakaran”, maka Ayu laksana kopi pabrikan, well-manufactured, yang racikannya serba dihitung, ditakar sedemikian rupa sehingga menimbulkan aroma dan rasa yang pas dan nikmat bagi yang meminumnya. Sedang kopi Dee, justru membuat yang minum menghentikan minum kopinya dan beralih pada minuman yang lain.

Ha ha ha. Sebuah analogi yang tepat sekaligus promosi yang hebat atas buku barunya: Kopi Filosofi. Bagaimanapun membaca Dee lewat Supernova ataupun Kopi Filosofinya terbukti membuat kita kadang harus berhenti, mencerna, berkerut, untuk kemudian meneruskannya atau membuangnya karena nggak paham, kalau tidak membosankan. Kalau yang terakhir itu yang terjadi, mungkin jalan mencari Tuhan Anda tidak sama dengan Dee. Jadi, tak perlu dipermasalahkan, bukan? []

Satu hal yang mengkhawatirkan tinggal di Bangkok adalah mencari makanan yang halal. Dikenal sebagai negara buddist dengan 94% dari penduduknya beragama Budha, maka urusan makan-memakan menjadi amat krusial.

Beruntung sebelum terbang ke Bangkok, saya pernah bertanya pada seorang teman, dosen UPN Surabaya, yang sedang study di Bangkok. Dia bilang kalau di sekitar Imperial Hotel ada restoran orang Melayu muslim. InsyaAllah menjual makanan yang halal, karena beberapa kru Garuda Indonesia Airways suka makan di area itu.

Dan begitulah pada malam 23 April, diantara acara Pameran di Asian Energy Week (23-27 April 2007) kami mencari area itu. Dari sepanjang jalan Sukhumvit Soi 22 yang melintas di depan hotel, kami hanya menemukan SATU saja restoran muslim food, bernama: Usman Thai Muslim Food. Ini papan namanya:

Thai muslim food

Restoran ini dikelola oleh keluarga Samard Yama (yang mengambil nama “Usman” sebagai nama muslim), seorang warga Pattani di Thailand selatan yang hijrah ke Bangkok untuk mengadu nasib. Ia menjadi pegawai hotel sekaligus membuka restoran muslim, karena melihat peluang banyaknya tamu muslim yang kesulitan mendapatkan makanan halal.

Orangnya ramah, dan hebatnya bisa berbahasa melayu / Indonesia, sehingga sangat akrab dengan para tamunya yang kebanyakan juga orang Malaysia, Indonesia, Thailand, dan Brunei. Harga makanannya juga tidak terlalu mahal untuk ukuran kota besar semacam Bangkok. Sekali makan untuk dua orang dengan menu 1 porsi ikan Kakap goreng bumbu Tom Yam, 2 porsi nasi goreng, 2 porsi tahu goreng, 1 gelas jus mangga, dan 1 gelas jus kelapa muda hanya menghabiskan 355 Baht (setara Rp. 99.400,- pada kurs 1 Baht = Rp. 280,-)

Usman dan Bahtiar

Pict. Usman dan salah seorang temannya. Yang mana Pak Usman?

Sekali waktu, pada hari ketiga di Bangkok, kami mencari alternatif restoran lain. Teman dari Brunei merekomendasikan restoran Sahrazad, restoran Arab di bilangan Sukhumvit Soi Nana 3/1. Kami harus naik Sky Train dari Phrompon di sebelah hotel menuju Nana, dua stasiun ke arah Barat. Tiket kereta atas ini 20 Baht per orang. Hanya dalam 5 menit kami sudah sampai di stasiun Nana. Jalan kaki sebentar ke Soi 3, kami segera mendapatkan restoran dimaksud diantara restoran Persia, India, Melayu dan restoran Thailand lainnya.

Menu di restoran Sahrazad ini didominasi makanan ala Timur Tengah: isinya kambing melulu; memenuhi hampir 3/4 dari buku menunya. Kami bertiga, cukup mahal, menghabiskan 590 Baht.

Pulang dari Sahrazad kami naik taksi kota Bangkok dan hanya perlu membayar 35 Baht untuk sampai di depan hotel.

Satu hal yang begitu khas tentang makanan di sini setidaknya 2 hal: pertama, setiap makanan pasti dibarengi dengan sayuran segar (wortel merah, sawi, bawang bombay, paprica, timun, tomat, etc). Mungkin karena Thailand adalah negara mayoritas buddist yang suka vegetarian. Dan kedua, baunya menyengat, yang bagi hidung bangsa Asia Selatan seperti saya dan teman-teman tidaklah familiar. Rasanya jijik, seperti bau masakan berminyak berlemak-lemak yang keterlaluan.

Setidaknya kami jadi tahu, suatu saat barangkali kalau berkesempatan ke Bangkok lagi, mungkin sebaiknya kita membawa ransum sendiri dari Indonesia!