Singapore Airshow 2008Tanggal 20-21 Pebruari 2008, dua orang wakil Infoglobal memenuhi undangan Bernard Sik, Managing Director BiAm Technology, Pte Ltd, Singapura untuk hadir di acara Singapore Airshow 2008. Dua orang itu adalah Adi Sasongko serta Bahtiar H. Suhesta. Kunjungan ini merupakan balasan atas dua kali kunjungan delegasi mereka ke kantor Infoglobal Sriwijaya Surabaya, terakhir pada 30 Oktober 2007 yang lalu.

Di pintu masuk
Bergaya di gerbang selamat datang.

BiAm Technology merupakan perusahaan integrator produk-produk Curtiss-Wright Controls, Inc. dan Comsoft. Curtiss-Wright merupakan perusahaan penyedia subsistem dan komponen untuk pesawat militer dan komersil yang berpusat di Charlotte, North Carolina. Sedangkan Comsoft adalah perusahaan penyedia solusi Air Traffic Management yang berpusat di Jerman. Infoglobal pernah membeli salah satu produk mereka, berkaitan dengan proyek Digitalisasi Radar TNI Angkatan Udara. Dengan kunjungan ini diharapkan terjalin kerjasama yang lebih erat dalam pengembangan sistem, khususnya di lingkungan militer antara kedua belah pihak.

Di arena Singapore Airshow 2008
Airbus 380… rodanya saja setinggi badan orang dewasa!

Pameran aerospace dan pertahanan terbesar se-Asia ini merupakan ajang unjuk kekuatan dan kemajuan teknologi kedirgantaraan tingkat dunia. Bertempat di hall New Changi Exhibition Centre di sebelah timur Changi airport yang luas arealnya tak kurang dari 40.000 meter persegi dan full AC ini, berkumpul puluhan perusahaan raksasa produsen peralatan dan fasilitas kedirgantaraan, perusahaan penerbangan komersil tingkat dunia, dan sebagainya. Berbagai inovasi terbaru dipamerkan dalam acara ini, mulai pesawat komersial dan militer tipe terbaru, peralatan surveillance dan defense supercanggih, hingga wargaming system.

Jika dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan kelas raksasa yang ikut serta di dalam pameran ini, Infoglobal mungkin masih terlihat kecil. Tetapi, dari sisi produk, wargaming system misalnya, sebenarnya SOYUS produksi Infoglobal tidaklah kalah canggih dibandingkan dengan produk sejenis yang dipamerkan. “Kita selama ini hanya kurang aware terhadap tampilan produk kita. Juga terlalu low profile dan kurang promosi,” kata Adi Sasongko. “Dalam waktu dekat, kita harus bisa mengikuti pameran seperti Singapore Airshow ini. Tentu dengan produk-produk yang tidak kalah canggih.“

Iklan

Tersesat di Bangkok
Pict. Lelaki yang tersesat di Bangkok.

Satu hal yang mengkhawatirkan tinggal di Bangkok adalah mencari makanan yang halal. Dikenal sebagai negara buddist dengan 94% dari penduduknya beragama Budha, maka urusan makan-memakan menjadi amat krusial.

Beruntung sebelum terbang ke Bangkok, saya pernah bertanya pada seorang teman, dosen UPN Surabaya, yang sedang study di Bangkok. Dia bilang kalau di sekitar Imperial Hotel ada restoran orang Melayu muslim. InsyaAllah menjual makanan yang halal, karena beberapa kru Garuda Indonesia Airways suka makan di area itu.

Dan begitulah pada malam 23 April, diantara acara Pameran di Asian Energy Week (23-27 April 2007) kami mencari area itu. Dari sepanjang jalan Sukhumvit Soi 22 yang melintas di depan hotel, kami hanya menemukan SATU saja restoran muslim food, bernama: Usman Thai Muslim Food. Ini papan namanya:

Thai muslim food

Restoran ini dikelola oleh keluarga Samard Yama (yang mengambil nama “Usman” sebagai nama muslim), seorang warga Pattani di Thailand selatan yang hijrah ke Bangkok untuk mengadu nasib. Ia menjadi pegawai hotel sekaligus membuka restoran muslim, karena melihat peluang banyaknya tamu muslim yang kesulitan mendapatkan makanan halal.

Orangnya ramah, dan hebatnya bisa berbahasa melayu / Indonesia, sehingga sangat akrab dengan para tamunya yang kebanyakan juga orang Malaysia, Indonesia, Thailand, dan Brunei. Harga makanannya juga tidak terlalu mahal untuk ukuran kota besar semacam Bangkok. Sekali makan untuk dua orang dengan menu 1 porsi ikan Kakap goreng bumbu Tom Yam, 2 porsi nasi goreng, 2 porsi tahu goreng, 1 gelas jus mangga, dan 1 gelas jus kelapa muda hanya menghabiskan 355 Baht (setara Rp. 99.400,- pada kurs 1 Baht = Rp. 280,-)

Usman dan Bahtiar

Pict. Usman dan salah seorang temannya. Yang mana Pak Usman?

Sekali waktu, pada hari ketiga di Bangkok, kami mencari alternatif restoran lain. Teman dari Brunei merekomendasikan restoran Sahrazad, restoran Arab di bilangan Sukhumvit Soi Nana 3/1. Kami harus naik Sky Train dari Phrompon di sebelah hotel menuju Nana, dua stasiun ke arah Barat. Tiket kereta atas ini 20 Baht per orang. Hanya dalam 5 menit kami sudah sampai di stasiun Nana. Jalan kaki sebentar ke Soi 3, kami segera mendapatkan restoran dimaksud diantara restoran Persia, India, Melayu dan restoran Thailand lainnya.

Menu di restoran Sahrazad ini didominasi makanan ala Timur Tengah: isinya kambing melulu; memenuhi hampir 3/4 dari buku menunya. Kami bertiga, cukup mahal, menghabiskan 590 Baht.

Pulang dari Sahrazad kami naik taksi kota Bangkok dan hanya perlu membayar 35 Baht untuk sampai di depan hotel.

Satu hal yang begitu khas tentang makanan di sini setidaknya 2 hal: pertama, setiap makanan pasti dibarengi dengan sayuran segar (wortel merah, sawi, bawang bombay, paprica, timun, tomat, etc). Mungkin karena Thailand adalah negara mayoritas buddist yang suka vegetarian. Dan kedua, baunya menyengat, yang bagi hidung bangsa Asia Selatan seperti saya dan teman-teman tidaklah familiar. Rasanya jijik, seperti bau masakan berminyak berlemak-lemak yang keterlaluan.

Setidaknya kami jadi tahu, suatu saat barangkali kalau berkesempatan ke Bangkok lagi, mungkin sebaiknya kita membawa ransum sendiri dari Indonesia!